Just another WordPress.com site

Implementasi Politik di Timor Leste Bagai  Mainan Anak-Anak yang melempar balon kesana-kemari

Penulis : Basilio Ribeiro ( www.basrib-brelri.blogspot.com )

Seringkali kita selalu prihatin akan kapan dan bagaimana seseorang dapat m’ciptakan kondisi yang aman dan nyaman untuk kita berteduh. Sesorang sangat terikat akan jati-dirinya sendiri. Implemantasi kehidupan dalam sosieitas berkata lain, disisi pembangunan,  disisi perekonomian, pengembangan teknologi, dan apa lagi politik. Dalam dunia global inilah persaingan itu muncul untuk mengembalikan harapan yang muncul dalam realitas sosial dalam berdemokrasi dan berpolitik. Lalu kapan semuanya itu dapat diimplementasikan? Apakah kompetisi politik telah membutakan seseorang untuk jauh dari demokrasi?…  Kekeluargaan dalam dunia global ini, secara “terpaksa” telah diterima sebagai suatu realitas sosial dalam berdemokrasi dan berpolitik. Realitas relasi kekeluargaan dapat dimanfaatkan sebagai titik tolak dan modal dasar yang baik agar berkiprah ke dalam dunia politik. Dengan demikian tidak dapat dielakkan lagi bahwa politik jenis ini, lalu jadi cara “licik” seorang pemimpin yang ingin mengamankan orang-orang dekatnya, keluarganya atau kelompok sukunya dan lain-lain. Dengan demikian, dia sendiri pun selalu merasa aman di sana. Menarik untuk bercermin pada penulis kenamaan, Bennie E. Godwin yang pernah mencatat bahwa: “…. meskipun calon pemimpin dilahirkan, namun pemimpin yang efektif adalah yang digembleng”. Atau penyair Shakespeare pernah menuliskan kata-kata emas berikut ini: “Jangan takut kepada kebesaran. Ada yang besar karena dilahirkan besar, ada yang besar karena usaha sendiri. Tetapi ada yang besar karena dipaksa oleh keadaan”. Maka jelas bahwa yang terakhir ini adalah balon. Balon membesar karena dipaksa oleh angin yang dihembuskan ke dalamnya. Tanpa angin yang dihembus-paksakan itu, balon akan tetap menjadi karet melempem yang tidak memiliki kebesaran apa pun, kapan pun dan di mana pun.

Para politisi senang bermain politik “balon” secara cantik. Biasanya sebelum diisi dengan angin yang dipaksakan, balon tidak bisa terangkat sebab belum memiliki tenaga. Namun ketika telah terisi udara, angin yang cukup ringan itu akan dengan mudah mengangkat balon yang telah kembung itu ke atas dan bisa dengan mudah dipelantingkan ke sana ke mari. Dan ketika balon diterbangkan ke udara, balon itu akan naik menjulang tinggi ke atas, bahkan bagai menggapai awan-awan. Pada saat itu, amatilah si balon itu secara saksama. Kenapa balon itu biasa naik dan terbang setinggi itu? Tak pelak lagi, karena isi balon itu hanya udara kosong. Tidak ada apa-apanya. Dalam dunia politik, si “balon” akan tampil menawan dan memukau, karena bisa saja, dia memang pandai berorasi memukau publik. Para politikus “balon” itu, lalu terbuai dengan ketinggian yang telah digapainya. Lantas akan berkepala besar, bertelinga berdiri, berlidah panjang dan memandang rendah atau menganggap tidak berarti semua yang ada di bawahnya. Tetapi, dan ini yang penting, balon hampa itu biasanya tidak bertahan lama di udara. Ketika balon itu makin kena sinar matahari, udara dalam balon itu mulai memuai dan kulit balon yang terbuat dari karet tipis itu, akan tiba saatnya tidak mampu lagi menahan desakan udara panas dan meledak! Tamatlah riwayat balon yang semula perkasa itu. Riwayat politiknya pun berakhir. Bahkan memandangnya pun orang biasanya tidak sudi. Apa lagi memberi salam. Apa lagi duduk berdekatan dengannya. Begitu ia muncul, banyak orang menghindar dan bahkan ada yang melemparkan comooh yang menyakitkan. “Sungguh malang nasibmu balonku…”. Maka balon lebih cocok dipermainkan oleh anak-anak kita dan jangan pernah ditiru dalam permainan politik.

Tetapi sering terjadi, kenyataan di atas terpaksa harus diterima walaupun implikasinya buruk bagi masyarakat kebanyakan. Cara-cara berpolitik seperti balon adalah menciptakan mekanisme dengan  mengkaitkan fungsi sosial dan fungsi publik dari si politisi untuk kepentingan pribadinya. Mereka terpaksa bermain balon demi pemenuhan kepentingan pribadi dan keluarga. Sebab sang politisi bergantung pada kinerja balon-nya dalam memenuhi fungsi sosial dan fungsi publiknya. Sampai batas ini, si politkus menunjukkan gaya sandiwara politik atau politik balon sebagai cara untuk menjadikan politik sebagai dunia maya melalui wajah kepura-puraan, munafik, dan tidak konsisten. Amatilah sekali lagi ide cemerlang dari Shakespear: “Tetapi ada yang besar karena dipaksakan oleh keadaan”. Maka jadilah, citra konotatif bagi seorang politisi balon adalah sandiwara. Kurang-lebih, jika seseorang berkata pada sahabatnya: “Akh, kamu lagi bersandiwara…”, maka yang dimaksudkan bukanlah dia yang bermain sandiwara, tapi yang dimaksudkannya adalah sang sahabat yang sedang berpura-pura. Meski tidak suka, saya sendiri terkadang memang tidak bisa mengelak untuk menyetujui pendapat bahwa politik balon ini adalah panggung sandiwara terbesar. Dan biasanya, jumlah penontonnya juga tidak sedikit.

Apakah yang menjadi alur dalam politik balon? Tidak ada! Karena yang dihasilkan oleh politik balon hanyalah kehancuran. Maka sebaiknya dalam sistem politik yang benar, perlu diperjuangkan empat hal pokok berikut ini, agar kita terhindar dari kebutaan politik. Pertama, Visi. Yaitu ihwal tentang pemahaman yang mendasar mengenai situasi politik masa kini dengan pandangan yang tajam menjangkau ke depan. Kedua, Ketekunan. Untuk mengorbitkan seorang pemimpin dalam hal berpolitik, masalahnya bukan karena sang bos mengatakan: “Saya rasa dia bisa”, melainkan sang bos perlu sangat jeli menilai ‘ketekunan’ sang politisi dalam menjalankan tugas harian perpolitikan. Ini adalah kualitas utama dan terutama dalam hal menjadi pemimpim politik masa depan. Ketiga, Kerja keras. Dunia membenci segala sandiwara yang bergaya balon. Dan seorang pemimpin di dunia politik, tidak cukup hanya mempunyai visi, tetapi perlu mengejawantahkan visi itu ke dalam perbuatan nyata. Artinya, visi perlu dibarengi kerja praktis yang keras. Sungguh, kombinasi antara kerja keras dan visi diperlukan. Tanpa visi, setiap usaha politik akan kehilangan arah. Begitu juga tanpa kerja keras, visi hanya akan menjadi sebuah mimpi dan bukan impian yang akan tercapai. Keempat, Disiplin diri. Seorang pemimpin politik sangat perlu berdisiplin diri. Untuk itu dia dianjurkan memiliki autoritas pribadi dan autoritas sosial, agar dia mampu mengendalikan dirinya dalam segala hal menyangkut dunia perpolilitkan. Tanpa disiplin diri, semua tugas politik akan menjadi topeng dan kedok untuk menghalalkan segala cara yang bisa dia lakukan dengan sewenang-wenang.

Membaca aktualisasi politik dalam surat kabar akhir-akhir ini, kita bisa saja melontarkan begitu banyak pertanyaan. Salah satu di antaranya: Pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini? Dan siapakah yang bisa memberikan jawaban-jawaban tepat? Masing-masing kita sebagai pribadi yang adalah warga Negara dan warga Gereja sekaligus?
Dan pasti jelas, pemimpin bergaya balon, tidak akan kita butuhkan. Br’#

Oleh: basrib*)
*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik di Timor Leste.
 Tinggal di Surabaya, Indonesia

Clik disini untuk melihat Creactive Writing dari basrib lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: